Monday, February 12, 2007

keseimbangan

KESEIMBANGAN

Oleh : Riva Mukziza

Seimbang dalam hal apa? Kali ini yang akan dibahas adalah keseimbangan antara ibadah ghairu mahdhoh (kuliah, aktivitas di luar kuliah, dll) dengan ibadah mahdhoh. Hablumminannas dengan habluminallah.

Hati berjalan menuju Allah dengan kekuatannya sendiri (dengan pertolongan Allah tentu saja). Kalau seseorang sakit karena virus hati, maka kekuatan hati akan lemah. Jika kekuatan itu musnah semuanya, maka terputuslah ia dari Allah. Sedangkan untuk kembali akan sangat sulit.

Imam Ibnul Qoyyim berkata,

"Di dalam hati ada kekacauan yang tidak dapat ditertibkan kecuali datang kepada Allah. Ada kotoran yang tidak dapat dihilangkan kecuali mendekatkan diri pada Allah. Ada kegelisahan yang tak dapat tenang kecuali berkelompok karena Allah dan segera menuju pada-Nya. Ada api kesedihan yang tak dapat dipadamkan kecuali ridha atas putusan dan peritnah Allah, tetap bersabar sampai berjumpa dengan-Nya. Ada kebutuhan yang tak dapat dipenuhi kecuali harus mencintai dan kembali pada-Nya "

Nah lantas bagaimana kita memperbaiki hati kita?. Langkah pertama perbaikan menurut Imam Al Banna adalah Shalahu nafsi (memperbaiki jiwa). Hendaknya kita tidak merasa cukup terhadap apa yang ada pada kita. Perjalanan ini panjang, perbekalan kita minim dan jalan-jalan lain begitu banyak. Maka kita masih membutuhkan perbekalan, pertolongan dan uluran tangan Allah. Rasulullaah SAW dan para sahabat pada siang hari sibuk mencari nafkah (dalam konteks ibadah) bagaikan singa, sedangkan malam harinya bagaikan rahib yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah saat makhluk lebih suka terlelap.

Sekarang coba introspeksi diri kita. Lha....boro-boro seimbang..Siang sibuk kuliah, ngerjain tugas, praktikum, dan beraktivitas baik di lembaga da'wah atau pun organisasi lainnya. Semuanya itu ibadah, sih (tapi, inget ! Kumaha niat). Nah trus malemnya refreshing....yang nonton film, yang dengerin radio all night long, yang baca novel yang nggak mutu, yang ngegosip di telpon, dll deh. Jam 10 tidur, trus bangun jam empat dua puluh sholat subuh. Abis sholat 4 menit, kayak abis ngelepas beban trus tidur lagi deh. Jam enam bangun, mandi makan, ke sekolah. Begitulah rutinitas. Pertanyaannya adalah, berapakah waktu yang kita luangkan untuk mencari ilmu untuk memperkaya ruhiyah kita ? Cukupkah bila cuma seminggu sekali dengan waktu hanya 1-2 jam untuk mengimbangi kegiatan kita yang seabrek itu untuk terus menjaga niat kita di jalan yang benar?

Menjaga hati itu sulit lho! Walau pun aktivitas kita mungkin di bidang da'wah (dalam rangka ibadah), tapi tanpa ada keikhlasan dalam hati....kelupaan kita bahwa yang kita lakukan semata-mata karena Allah. Dan jika hati kita sudah kesat, karena minimnya kita mendekatkan hati kita kepada Allah, maka pertolongan Allah akan terhenti. Adapun cara-cara mendekatkan diri pada Allah banyak sekali, yaitu :

1.Sholat tahajud secara rutin "Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah untuk sembahyang di malam hari keculai sedikit daripadanya, yaitu seperduanya atau kurangilah sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur an perlahan-lahan. Sesungguhnya bangun di tengah malam itu adalah lebih tepat ( untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari kamu mempunyai urusan yang banyak. Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Q.S. 73:1-8)

2. Baca surat cinta dari Allah alias Al Qur'an dan terjemahnya / tafsirnya secara rutin (jangan kebanyakan dengerin lagu funky tuh...bisa kebal nanti hati terhadap ayat Allah) 3. Tadabur alam 4. Tausiyah 5. Rajin ke ta'lim untuk dengerin ceramah dan diskusi, dahkan lebih baik lagi jika kita punya kelompok mentoring (kita yang dimentor) kayak waktu SMA duluuu...sebagai ajang tausiyah...ajang ingat kepada Allah... 6. Dan masih banyak lagi....be creatif but Islami, friends..

Percaya deh...jika itu kita lakukan, kesibukan-kesibukan yang kita lakukan akan terasa lebih ringan dan hati kita akan semakin peka dan open terhadap hidayah Allah, keikhlasan kita juga akan senantiasa terjaga. Jika ikhlas, Insya Allah kegiatan yang kita kerjakan semua adalah ibadah.

Jika tidak ikhlas, walau pun kegiatan segunung yang sebenarnya bisa dijadikan ibadah, mungkin sebagian nggak ada artinya di mata Allah. Allah tidak melihat hasil, tapi usaha kita. Pertanyaannya adalah," Apakah kita sudah benar-benar berusaha?


Rasulullah bersabda,"Sesungguhnya Allah berfirman : Tidaklah seorang hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Kusukai selain dari amalan-amalan wajib dan seorang hamba-Ku senantiasa mendekat pada-Ku dengan melakukan amalan-amalan sunah, sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku-lah yang menjadi pendengarannya, dan sebagai tangan yang digunakannya untuk memegang dan kaki yang dia pakai untuk berjalan, dan apabila ia memohon pada-Ku pasti Kukabulkan, dan jika ia berlindung pada-Ku pasti Kulindungi." (H.R. Bukhari )

1 comment:

artif said...

Lagi browsing-browsing, ehh nemu ini. Yang nulis temenku kak Riva, hehe... pa kabar Bu, rajin tahajud ya sekarang, ehm.... Ajarin rajin tahajud donk, ngantuk melulu nih :-)