Wednesday, June 6, 2007

Tabiatmu

Suatu hari, Seorang yang bijak ditemani salah seorang anaknya berjalan-jalan ke tempat yang sunyi. Keduanya berjalan dan akhirnya sampai di perkebunan dengan pohon-pohon yang indah, bunga-bunga yang harum, dan buah-buahnya yang ranum. Ada sebuah pohon kecil di pinggir jalan yang condong karena ditiup angin. Ujungnya hampir menyentuh tanah.

Bapak yang bijak itu berkata kepada anaknya, "Lihatlah pohon yang miring itu. Kembalikan ia kepada keadaannya yang semula."
Anaknya pun bangkit menuju pohon itu. Dengan mudah dia berhasil meluruskannya.

Lalu keduanya berjalan lagi. Sekarang, keduanya sampai kepada sebuah pohon besar, batang-batangnya banyak yang bengkok. Bapak itu berkata kepada anaknya, "Anakku, lihatlah pohon ini. Betapa ia sangat memerlukan orang yang mau berbuat baik kepadanya untuk meluruskannya. Menghilangkan aib yang menodai­nya, dan menaikkan harganya di depan orang-­orang yang memandangnya. Kesanalah, lakukanlah apa yang kamu lakukan pada pohon sebelumnya."

Anaknya tersenyum terheran-heran. Dia menjawab, "Aku bukan tidak mau berbuat baik. Hanya saja pohon itu tidak mungkin diluruskan, karena usianya yang sudah tua. Benar, itu mungkin bisa dilakukan pada saat ia masih muda. Kalau sekarang, mana mungkin?"

Bapak bijak itu mengagumi anaknya. Dia bahagia melihat anaknya yang cerdas dan bisa menjawab dengan tepat. Dia berkata, "Kamu benar, anakku. Siapa yang tumbuh di atas sesuatu, maka ia menjadi tabiatnya. Beradablah sejak kecil, niscaya adab itu selalu menemanimu sampai kamu dewasa."

Kemudian keduanya pulang dan bapak bijak itu melantunkan syair,

"Budi pekerti itu berguna bagi bocah semasa kecilnya.

Adapun pada masa kepala telah beruban,

maka ia tidaklah berguna

Sesungguhnya jika kamu meluruskan ranting,

maka ia bisa lurus.

Sementara kayu, tidaklah mungkin kamu bisa meluruskannya. "



--khizr--


Yang Pantas Bersedih

Umar bin Abdul Aziz Rohimahullah menangis ketika melihat seorang anaknya pada hari raya dengan pakaian yang usang. Anaknya berkata, “Apa yang membuatmu menangis, ya Amirul Mukminin?”

Umar menjawab, “Putraku, aku takut hatimu bersedih pada hari raya ini. Kamu melihat anak-anak yang lain memakai baju bagus, tetapi kamu memakai baju seperti ini.”

Anaknya berkata, “Ya Amirul Mukminin, yang patut bersedih adalah orang yang tidak memperoleh ridha Allah atau dia durhaka kepada ibu-bapaknya. Dan aku berharap Allah meridhaiku dangan ridhamu.”

Umar menangis. Dia memeluk dan mencium kening anaknya. Dia mendoakannya dengan kebaikan dan keberkahan. Maka dia termasuk orang terkaya sesudah bapaknya.

Sumber: Makarimul Akhlaq

--khizr--

Kapankah Kelalaian Ini Berakhir?

"Suatu hari, Hasan AI-Bashri lewat di hadapan seorang pe­muda yang tenggelam dalam tawanya, ketika ia duduk bersama teman-temannya. Hasan berkata kepadanya: "Wa­hai pemuda! Pernahkah engkau melewati Ash-Shiraat?" Sang pemuda menjawab: "Belum." Beliau bertanya lagi: "Apakah engkau tahu, sedang berjalan menuju Surga atau Neraka?" "Tidak." Jawab pemuda itu lagi. "Lalu apa arti tawamu itu?" Tanya beliau lagi.

--khizr--
sumber: kisahislam.com